SEJARAH SYEH
SUBAKIR
Beliau adalah SYEKH TAMBUH ALY BEN SYEKHBAQIR (SYEKH SUBAKIR) bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy Asshohabi Rodliyallohu anhu waanhum ajmain.
Beliau dilahirkan tanggal 20 Romdlon 787 H. di Demak. Wafat 21 Syawal 1021 H. di Condro. Beliau pernah menuntut ilmu agama di Masjidil Haram Mekkah selama 10 tahun. Beliau siang puasa, baca Qur’an malam hari, dzikir malam LA ILAHA ILLALLOH dan membaca sholawat pada siang hari. Asal beliau dari Parsi atau sekarang dikenal dengan nama Iran. Thoriqot beliau thoriqoh MAGHROBIYAH.
Isteri-isteri beliau :
· Cut Nazilah
dari Aceh
· Sheikhoh
Aisyah Binti Muhammad Al Marbawi dari Aceh
· Signorita
Miguela dari Portugis
· Roro
Wulandari Bibi dari Minak Koncar Lumajang.
Keturunan-keturunan
beliau tersebar di beberapa Bangsa.
Kekeramatan Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA adalah :
· Bisa
berbicara semua Bahasa, termasuk bahasa Malaikat, jin dan Hewan.
· Segala Hajat
yang dinginkan beliau pasti terkabul, karena keramat beliau KUN FAYAKUN.
· Dalam berdakwah tidak membutuhkan kendaraan, kemana-mana asal tujuan dakwah bisa sampai tujuan dalam hitungan Detik.
· Dalam berdakwah tidak membutuhkan kendaraan, kemana-mana asal tujuan dakwah bisa sampai tujuan dalam hitungan Detik.
Fatwa-fatwa Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA diantaranya :
· Allah itu
Maha Segalanya.
· Taqwa itu
Sholat, Tasbih dan Puasa
· Islam itu
Damai seluruh Dunia
· Ilmu itu
supaya bertambah, harus di Amalkan.
· Makan itu
untuk Hidup, kalau tidak terpaksa Tidak Makan
· Hukum dan
Pemeritah itu apa Kata Rakyat
Murid-murid Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA, diantaranya:
· Syekh
Abdullah (dulu makamnya di SDN1 atau BRI Lumajang. Sekarang dipindah ke
makam umum Jogoyudan Lumajang)
· Syekh
Muhammad Anas dari Demak. (Makamnya di belakang Masjid Jamik Anas Mahfud
Lumajang)
Wilayah da’wah beliau Lumajang dan sekitarnya. Perjuangannya menyebarkan agama Islam memberi pencerahan mengatasi kegelapan dan kemusyrikan masyarakat. Dengan keramatnya semua manusia dan hewan tunduk menuruti ajakan beliau dengan senang hati.
”Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Arab, untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya telah gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar P Jawa. Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syeh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang di seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syeh Subakirlah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syeh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.
yekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404, mereka diantaranya:
Wilayah da’wah beliau Lumajang dan sekitarnya. Perjuangannya menyebarkan agama Islam memberi pencerahan mengatasi kegelapan dan kemusyrikan masyarakat. Dengan keramatnya semua manusia dan hewan tunduk menuruti ajakan beliau dengan senang hati.
”Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Arab, untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya telah gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar P Jawa. Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syeh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang di seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syeh Subakirlah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syeh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.
yekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404, mereka diantaranya:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli
mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia
Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur
negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli
pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang
angker yang dihuni jin jahat.
Keberadaan daerah Magelang terbungkus oleh berbagai legenda. Salah satu dongeng yang hidup dikalangan rakyat mengisahkan --sebagaimana dikisahkan M. Bambang Pranowo (2002)-- bahwa pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari. Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar. Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai “pakuning tanah jawa”.
Keberadaan daerah Magelang terbungkus oleh berbagai legenda. Salah satu dongeng yang hidup dikalangan rakyat mengisahkan --sebagaimana dikisahkan M. Bambang Pranowo (2002)-- bahwa pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari. Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar. Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai “pakuning tanah jawa”.
Dongeng lain yang tentunya diciptakan setelah masuknya Islam mengisahkan bahwa pada zaman dahulu daerah ini merupakan kerajaan jin yang diperintah oleh dua raksasa. Syekh Subakir, seorang penyebar agama Islam, datang ke daerah ini untuk berdakwah. Tidak rela atas kedatangan Syekh tersebut terjadilah perkelahian antara raja Jin melawan sang Syekh. Ternyata Raja Jin dapat dikalahkan oleh Syekh Subakir. Raja Jin dan istrinya kemudian melarikan diri ke Laut Selatan bergabung dengan Nyai Rara Kidul yang merajai laut Selatan. Sebelum lari Raja Jin bersumpah akan kembali ke Gunung Tidar kecuali rakyat didaerah ini rela menjadi pengikut Syekh Subakir.
Legenda ini sangat melekat bagi masyarakat tradisional Jawa, tidak sekedar di Magelang, tapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa, bahkan sampai di Lampung dan mancanegara (Suriname). Hal ini karena telah disebutkan dalam jangka Joyoboyo dan mengalir secara tutur tinular menjadi kepercayaan masyarakat. Apalagi pemerintah kota Magelang menjadikan Tidar sebagai simbol atau maskot daerah dengan menempatkan gunung Tidar yang dilambangkan dengan gambar paku di dalam logo pemerintahan. Di samping itu nama-nama tempat begitu banyak menggunakan nama Tidar, seperti nama Rumah Sakit Umum Daerah, nama perguruan tinggi, nama terminal dll. Yang semuanya menguatkan gunung Tidar menjadi legenda abadi.
Kisah Syekh Subakir & Tombak Kyai Panjang –
Hikayat Gunung Tidar, Magelang
Di Magelang
terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu sangat
terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan bukit itu
menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal
sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah
Pulau Jawa.
Syahdan,
dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun
berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai
berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu
yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata
segera mencari cara untuk mengatasinya.
Maka
berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah
tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan
pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah
barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para
dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian
dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.
Melihat
kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa
waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa
harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan ditancapkan di pusat
Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Paku
raksasa yang ditancapkan itu konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Gunung
Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa menjadi tenang dari
hantaman ombak.
Menurut
kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali
oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai
Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai
Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang terkenal seram.
Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak
segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan
genderuwo untuk memangsanya.
Alkisah,
datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah
Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia
berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir dan ditemani Syekh Jangkung.
Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat
mengembangkan masyarakat yang kelek mendiami wilayah itu.
Mendengar
kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan
tiada seorangpun yang selamat kecuali Syekh Bakir yang sakti, soleh, dan sabar.
Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.
“Hei, Ki
Sanak, berani benar kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah
engkau dan apa maumu berada di wilayah ini,” kata Kiai Semar.
“Duh
penguasa wilayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Bakir, asalku dari
negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat
dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku,” jawab Syekh Bakir
dengan tenang.
“Adakah kau
tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapapun tak boleh tinggal di
sini. Jika tiada peduli, maka akau akan mnegutus anak buahku untuk menumpas
kalian tanpa sisa.”
“Hai engkau
yang mengaku sebagai penguasa Gunung Tidar, tidakkah kau tahu bahwa tiada yang
dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan
memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena-mena,” kata
Syekh Bakir.
“Hei
manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini! Ketahuilah bahwa
tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya.” Syekh Bakir
terdiam.
Mendengar
ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Tetapi bukan berarti ia menyerah kalah.
Tetapi sebaliknya Syekh Bakir hendak menyiapkan diri lebih baik untuk
mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya.
Sesampai di
negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang.
Selain itu, iapun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta
untuk membuka tempat tinggal baru di Tidar.
Sesampai
kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak serta oleh Syekh Bakir
tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal
dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna “turunan”. Ada yang
mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada yang
menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syekh Bakir
diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.
Setelah itu
Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak
pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak
bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi
Kiai Semar dan wadyabalanya.
Merekapun
lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian
tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah
Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker.
Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan diri ke alas
Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh
masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai
Panjang.
Dengan
adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan
makhluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong sahabat-sahabatnya untuk
membuka tempat tinggal baru di Gunung Tidar dan sekitarnya.
————————
Kisah lainnya :
GUNUNG TIDAR
Gunung Tidar adalah gunung di Kota Magelang Jawa
Tengah. Gunung ini tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer. Gunung
yang dalam legenda dikenal sebagai “Pakunya tanah Jawa” itu terletak di tengah
Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut, Gunung
Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa. Di Lembah Tidar itulah Akademi
Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga
berdiri pada 11 November 1957.
ASAL NAMA TIDAR
Asal muasal
nama Tidar sendiri banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa
nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar
waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya
Modar.
3 SITUS MAKAM GUNUNG TIDAR
Hanya butuh waktu
kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar
memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan
seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat
rimbun.
Beberapa
saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh
Subakir. Konon Syaikh Subakir adalah penakluk Gunung Tidar yang pertama kali
dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda
(hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke
Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan
agama Islam.
Tidak jauh
dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang
panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang
bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan
dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala
itu.
Situs makam
terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar.
Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam
pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski
demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam
pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang
mana.
PAKU TANAH JAWA
Di puncak
Gunung Tidar ada lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat
sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam
tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa
Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya
sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang
dan aman.
————————
Kisah lainnya :
Syekh
Subakir, sangat
berjasa dalam menumbali tanah Jawa, ”Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa
dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Negeri Arab, untuk menyebarkan
Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya tapi telah
gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh
memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai
bumi dan laut di sekitar P Jawa. Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan
Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi
hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara
makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syekh Subakir untuk menyebarkan
agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang oleh Syekh Subakir di
seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di
gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam
menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus
lainnya. Syekh Subakir lah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi
mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan
kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah
tetap masih berlaku atas ku, ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata
Syekh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk
orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.
No comments:
Post a Comment